Mengapa Orang Korea Sulit Berbahasa Inggris? (My Article)

Hello everyone, this is me Windi. I just wanna share what i feel and sum reality from my brain. Lolz..😀 Don’t forget to leave comment after read this. Just check my article out!! Here we go!! :) 

Saya adalah seorang pecinta Korean pop. Tentunya saya telah terjangkit virus Hallyu Wave atau Korean Wave. Istilah yang diberikan untuk tersebarnya budaya pop Korea secara global di berbagai negara di dunia. Umumnya Hallyu memicu banyak orang-orang di negara tersebut untuk mempelajari Bahasa Korea dan kebudayaan Korea. Di dalam hal ini, saya akan berbicara sedikit mengenai Boy/Girl Group atau yang lebih dikenal dengan sebutan Boy/Girl band di Indonesia. Tak bisa dipungkiri bahwa demam Kpop sekarang sudah menyebar diseluruh dunia dan secara tidak langsung mereka menjadi terkenal di kancah dunia. Mereka melakukan berbagai tur dunia guna mempromosikan lagu dan menghibur para fans yang ada di berbagai Negara. Tak jarang, mereka para Promoter musik tanah air dan juga Kpop Lovers (sebutan untuk penikmat music korea) rela merogoh kocek demi mendatangkan dan menonton Boyband dan Girlband kesayangan mereka seperti Super Junior, Girls’ Generation dan 2PM. Keseringan menikmati dan menonton acara mereka atau Reality Show melalui situs video online Youtube, saya merasa ada yang janggal dari mereka yang kurang memahami Bahasa Inggris. Dimana mereka juga mempelajari bahasa inggris layaknya di Indonesia dan di berbagai Negara juga pastinya. Mereka memang benar-benar sangat awam untuk hal tersebut. Bila dibandingkan dengan orang Indonesia yang tidak bisa berbahasa inggris, paling tidak orang Indonesia mengerti sedikit demi sedikit. Bahkan artis dan penyanyi yang sudah Go International di Korea pun sangat awam sekali. Ketika mengikuti Press Conference dan Interview tak jarang mereka mengandalkan rekan atau anggota yang fasih berbahasa inggris untuk menjawab pertanyaan dari wartawan dan Host, dimana rekan mereka tersebut memang pernah tinggal di luar negeri khususnya America yang lingkungannya menggunakan bahasa Inggris. Saya heran, apakah mereka tidak pernah mempelajari bahasa Inggris di sekolah dulu? Mereka (para artis dan penyanyi) yang tinggal di Ibu Kota Negara mempunyai fasilitas yang lengkap disana untuk lebih berkembang. Mengapa mereka sangat awam sekali dengan bahasa Inggris? Hingga artis dan penyanyi yang telah Go International seharusnya sudah lancar, tetapi sedikit pun tak bisa berbicara bahasa inggris, padahal itu  itu merupakan pegangan untuk mereka. Karena semakin banyak timbul tanda tanya, saya melakukan pencarian di Google. Rasa ingin tahu yang besar membuat saya penasaran dengan hal ini, mengapa artis dan penyanyi yang dikatakan sebagai Public Figure  yang seharusnya menjadi panutan dan contoh yang baik bagi masyarakat lain nya tidak bisa menjadi orang yang pintar dalam menangani dirinya sendiri dalam bidang ini.  

Ini adalah bagaimana Siswa di korea secara tradisional belajar bahasa Inggris – dan semua mata pelajaran lain: seorang guru datang ke ruang kelas, menulis di papan, dan menerangkan kepada mereka. Para siswa secara moral berkewajiban untuk menunjukkan rasa hormat dengan duduk pasif dan diam mencatat, menghafal semua yang guru katakan. Menurut nilai-nilai neo-Konfusianisme, guru memiliki status sosial yang lebih dari siswa, jadi ini adalah pelaksanaan yang tepat. Secara tradisional, siswa disana benar-benar hanya datang, duduk dengan patuh untuk mendengarkan apa yang di berikan oleh guru, yang menunjukkan moral mereka dalam filsafat Konfusianisme.

Imagepicture source : economist.com

 

Hal yang sama berlaku pada rapat kerja di perusahaan Korea. Bos berbicara, karyawan mendengarkan. Rekan kerja Korea saya mengatakan bahwa baru-baru ini bos mulai mengatakan kepada mereka bahwa mereka dapat mengajukan pertanyaan dalam rapat. Tapi, setidaknya di kantor saya, tidak ada yang pernah melakukannya. Mereka masih berpikir itu kasar. Tak seorang pun ingin mendorong amplop (Menyogok, istilah di Indonesia) atau melakukan sesuatu yang bisa dilihat sebagai menantang otoritas seseorang dengan pangkat atau senioritas. Karena bukan itulah yang dilakukan oleh orang Korea di lingkungan kerja mereka. Anda dipromosikan untuk ketaatan dan ketekunan, bukan untuk menjadi seorang pengambil risiko atau mengajukan pertanyaan kritis tentang bagaimana pekerjaan yang sedang dilakukan. Membuat saran tentang bagaimana untuk meningkatkan hal-hal juga tidak dapat diterima, karena itu akan menantang otoritas bos. Demikian pula, banyak siswa tidak banyak bicara di sekolah-sekolah Korea, atau berbagi pendapat mereka. Karena ide-ide guru dianggap lebih penting. Kalian telah melihat bukan, lingkungan yang sangat terstruktur menghambat kreativitas dan pemikiran kritis.

Jadi siswa tidak mengajukan pertanyaan, mereka tidak berbicara. Mereka menghafal semua informasi yang diajarkan guru kepada mereka, dan mengeluarkan semuanya pada tes atau ulangan berikutnya. Kemudian mereka melanjutkan ke kelas berikutnya, meskipun mereka mungkin tidak dapat menerapkan apa-apa, mereka hanya “belajar.” Anak-anak bosan dan sengsara, tapi budaya Korea mengharapkan mereka untuk enggan menyetujui.

Itulah informasi dari blog berbahasa inggris yang saya dapat dan telah saya terjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Untuk lebih jelasnya, anda dapat mengunjungi blog ini sebagai sumber asli dari artikel yang sebagian  telah saya terjemahkan. http://theunlikelyexpat.blogspot.com/2012/04/why-korea-speaks-terrible-english-hint.html Semoga bermanfaat.

 Motivation quote for this case :

“ We, Indonesian youth who are smarter in learning English than Korean people, not to be outdone by those few laymen. We could go international with it. They could go international by not using English, why we can’t be like that in every fields? If we already have a key.” – Windiyana Sari’s Quote.

 

WRITER : WINDIYANA SARI

TAKE OUT FULL CREDIT ONLY!!